Pemanasan Global dan Kenaikan Suhu Rata-Rata Global

Pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca sebagai pemicu perubahan iklim dan kenaikan suhu global

Dalam artikel ini

Share artikel

Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer bumi. Pemicu utama hal tersebut adalah dari aktivitas manusia, khususnya yang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar fosil sebagai penghasil emisi gas rumah kaca/greenhouse gasses (karbon dioksida, methane, nitrous oxide, water vapor, dan synthetic fluorinated gases) serta kegiatan alih fungsi lahan baik menjadi penghasil emisi gas rumah kaca (e.g. Industrial estate development) atau sebagai pengurang tingkat penyerapan emisi gas rumah kaca (e.g. lahan hijau yang dialihfungsikan)


Ketika emisi gas rumah kaca banyak terkumpul di atmosfer bumi, maka panas dan radiasi matahari terserap di atmosfer dan dipantulkan kembali ke bumi sehingga suhu panas terperangkap di dalam bumi, dimana seharusnya panas tersebut dapat dilepaskan ke luar bumi (efek rumah kaca).


Saat ini (tahun 1850-2022), peningkatan suhu rata-rata sudah 1,1 derajat Celsius lebih tinggi dibanding suhu rata-rata sebelum era industri/pre-industrial (1850-1900) sebagai tolok ukur. The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menekankan bahwa pengurangan emisi gas rumah kaca secara mendalam, cepat, dan berkelanjutan sangat penting di semua sektor, dimulai dari sekarang dan berkesinambungan sepanjang dekade ini. Untuk membatasi kenaikan suhu global menjadi 1,5°C di atas rata-rata pre-industrial level, emisi harus sudah mengalami penurunan dan perlu dikurangi hampir setengahnya pada tahun 2030, yang hanya tujuh tahun lagi.

Dampak Pemanasan Global

Para ilmuwan setuju bahwa dengan meningkatnya suhu bumi dapat menyebabkan gelombang panas dengan durasi yang lebih panjang dan dengan suhu yang tinggi, curah hujan yang lebih tinggi, kekeringan yang berkepanjangan, dan badai dengan frekuensi yang lebih tinggi.


Para ilmuwan telah mendokumentasikan dampak perubahan iklim saat ini, antara lain:

  • Es yang yang mulai mencair di seluruh dunia, terutama di kutub bumi yang meliputi gletser gunung, lapisan es yang menutupi Antartika Barat dan Greenland, serta es laut Arktik.
  • Sebagian besar es yang mencair ini berkontribusi pada kenaikan permukaan laut. Tingkat permukaan laut global naik 0,13 inci (3,2 mm) setiap tahun. Kenaikan ini terjadi dengan kecepatan yang lebih cepat dalam beberapa tahun terakhir dan diprediksi akan semakin cepat dalam beberapa dekade mendatang.
  • Peningkatan suhu juga telah mempengaruhi habitat satwa. Mencairnya es telah mengancam spesies seperti penguin Adélie di Antartika, di mana beberapa populasi di semenanjung barat telah mengalami penurunan hampir sebesar 90 persen.
  • Saat suhu berubah, saat ini banyak spesies telah bermigrasi. Telah diamati beberapa serangga dan tanaman alpen telah bermigrasi lebih jauh ke utara atau ke daerah yang lebih tinggi dan lebih dingin.
  • Presipitasi (curah hujan dan salju) telah meningkat di seluruh dunia, secara rata-rata. Namun beberapa wilayah mengalami kekeringan yang lebih parah, meningkatkan risiko kebakaran hutan, kerugian tanaman, dan kekurangan pasokan air bersih.
  • Beberapa spesies, termasuk nyamuk, kutu, ubur-ubur, dan hama tanaman, berkembang dengan pesat. Contohnya, pertumbuhan populasi bark beetle yang pesat yang memakan pohon cemara dan pinus, telah merusak jutaan hektar hutan di Amerika Serikat.

Dampak lainnya yang dapat terjadi menjelang akhir abad ini, jika pemanasan terus berlanjut, antara lain:

  • Diperkirakan bahwa permukaan laut akan naik antara 10 hingga 32 inci (26 hingga 82 cm) atau lebih tinggi pada akhir abad ini.
  • Badai dan topan diperkirakan akan menjadi lebih kuat. Banjir dan kekeringan akan menjadi lebih umum terjadi. Bagian besar dari Amerika Serikat, misalnya, menghadapi risiko yang lebih tinggi terhadap “megadroughts/kekeringan megajangka panjang” pada tahun 2100.
  • Ketersediaan air tawar akan berkurang, karena gletser menyimpan sekitar tiga perempat air tawar dunia.
  • Beberapa penyakit akan menyebar, seperti malaria yang ditularkan oleh nyamuk (dan kembalinya virus Zika pada tahun 2016).
  • Ekosistem yang akan terus berubah: Beberapa spesies akan bermigrasi lebih jauh ke utara atau dimungkinkan terjadi evolusi akibat adaptasi terhadap perubahan yang terjadi; yang lainnya, seperti beruang kutub, tidak akan dapat beradaptasi dan bisa punah.

Upaya Penanganan Terhadap Perubahan Iklim (SDG 13: Climate Change)

Tujuan nomor 13 dari 17 tujuan SDGs yaitu penanganan perubahan iklim, memiliki lima target yaitu:

  • Memperkuat kapasitas ketahanan dan adaptasi terhadap bahaya terkait iklim dan bencana alam di semua negara.
  • Mengintegrasikan tindakan antisipasi perubahan iklim ke dalam kebijakan, strategi, dan perencanaan nasional.
  • Meningkatkan pendidikan, penumbuhan kesadaran, serta kapasitas manusia dan kelembagaan terkait mitigasi, adaptasi, pengurangan dampak dan peringatan dini perubahan ikim.
  • Melaksanakan komitmen negara maju pada the United Nations Framework Convention on Climate Change untuk tujuan mobilisasi dana bersama sebesar 100 miliar dollar AS per tahun pada 2020 dari semua sumber untuk mengatasi kebutuhan negara berkembang dalam konteks aksi mitigasi yang bermanfaat dan transparansi dalam pelaksanaannya dan mengoperasionalisasi secara penuh the Green Climate Fund melalui kapitalisasi dana tersebut sesegera mungkin.
  • Menggalakkan mekanisme untuk meningkatkan kapasitas perencanaan dan pengelolaan yang efektif terkait perubahan iklim di negara kurang berkembang, negara berkembang pulau kecil, termasuk fokus pada perempuan, pemuda, serta masyarakat lokal dan marjinal.

Source:

https://www.nationalgeographic.com/environment/article/global-warming-effects
https://unstats.un.org/sdgs/report/2023/

Artikel lainnya

Mangrove Embroidery

Mengenal Istilah Mangrove Embroidery

Mangrove embroidery menjadi salah satu istilah yang sering didengar dalam penanaman mangrove, lalu apa sebenarnya mangrove embroidery?

PT PPA CSR tanam pohon

Perusahaan Pengelola Aset Melawan Deforestasi melalui Aksi Penanaman 580 Pohon

Aksi keberlanjutan oleh Perusahaan Pengelola Aset (PPA) bersama Perhutani pada area seluas 1 hektar di Megamendung, Bogor, Jawa Barat

mengenal mheat index

Mengenal Heat Index

Seringkali kita melihat perbedaan antara suhu dan suhu “feels like”. Lalu sebenarnya apa perbedaannya?